Search This Blog

Thursday, 15 September 2011

Meracau Tak Tentu Arah 1

Apakah hidup memerlukan teknik?
Tunggu, yang lebih penting, kenapa saya memberi judul "Meracau Tak Tentu Arah 1"?
Ini karena postingan saya tak ada manfaatnya bagi pembaca, dan mungkin akan terulang lagi postingan seperti ini, jadi saya beri angka 1. Jadi nantikan saja season 2, 3, 4, dst.
Saat hujan melanda, aku ( aku mode: on) selalu terpaku, terdiam, membisu, kehabisan kata, beriring bersama kesenyapan, yang kebenaran dari untaian katanya adalah... aku tertidur. Kenapa Banjarmasin harus hujan tiap hari? Padahal di daerah lain musim kemarau. Selain tidur, kebiasaan aku saat hujan adalah bengong, dan salah satu hasil bengongku adalah teringat akan pelajaran hidup dari temanku waktu SD dulu. Mau tahu? Mau tahu? Beneran mau tahu? Kalau gitu kita lanjutkan setelah yang lewat ini. Jamaah...ee..oo jamaah... Alhamdu..lillah. Kalau begitu mari, cekidot (check it sambil ngedot):
Pada zaman dahulu kala, sekitar seratus tahun yang lalu <--- ini bohong.
Aku SD tahun berapa ya, karena aku lahir 1991, maka usiaku saat ini 20, jadi SDnya....SDnya....ummm...bagaimana kalo kalian hitung saja sendiri? OK? OK aja ya (maksa). Yah, pada zaman aku SD, aku termasuk anak yang manja (ini namanya membongkar aib masa lalu), dan yang jadi masalah utama saat itu adalah makan siang. Aku bosan, menunya itu-itu mulu, nasi+lalapan+ayam/ikan. Suatu hari aku ngambek karena hal tersebut, dan kabur dari rumah. Di jalan aku bertemu dengan Bunga (nama samaran), tapi jangan salah, Bunga ini laki-laki lho. Bunga lagi jalan-jalan di sekitar langgar di kampung, aku datangi dia. Lalu kami terlibat suatu percakapan yang kira-kira begini (aku agak lupa lengkapnya):
Dede: Bunga, ngapain kamu di situ?
Bunga: Main kelereng
Dede: Nggak makan siang?
Bunga: Ibuku baru pulang dan sekarang lagi masak. Kamu mau makan siang di tempatku?
Dede: (bosan maksi di rumah) Boleh tuh
Bunga: Kalo gitu, ayo ke rumahku
Kebetulan aku juga belum tahu rumah Bunga, ya aku ikutin aja. Ternyata Bunga sekeluarga tinggal di sebuah bedeng sempit, di daerah kampung. Bedengnya bahkan (maaf) lebih jelek dari rumahku yang cukup jelek. Lalu Bunga mengajakku masuk, ternyata ibunya Bunga sudah selesai masak, jadi kami berkumpul untuk makan. Dan tebak apa menunya?
Sepiring nasi putih dan semangkuk mi kuah. Sepiring bagi 3 ( aku, Bunga, dan ibunya). Aku kaget, lalu merenung, ternyata selama ini aku sangatlah tidak mensyukuri nikmat dari Allah SWT, aku ternyata payah, dan Bunga hebat. Aku yang sudah sadar dari lamunan , langsung pamit pulang tanpa sempat dicegah. Sesampai di rumah aku langsung ke meja makan, dan melihat keluargaku lagi makan. Aku duduk dan makan tanpa berkata apa-apa. Aku makan dengan lahap, dan aku sadar, ternyata makananku selama ini sangat nikmat. Aku selama ini selalu mengeluh, sedangkan Bunga di sekolah selalu terlihat ceria dan segar bugar walau makanannya itu saja. Terima kasih atas segala karuniamu ya Allah. Hamba berniat akan selalu mensyukurinya.

No comments:

Post a Comment